Meneguhkan Intelektualitas Islam Berkemajuan: Refleksi Darul Arqam Pimpinan Utama

Meneguhkan Intelektualitas Islam Berkemajuan: Refleksi Darul Arqam Pimpinan Utama

Oleh: Antong Universitas Muhammadiyah Palopo

Siapa kita? DAPU 2, PTMA? Unggul, Muhammadiyah? Maju..maju…maju…, Sulawesi Selatan? Ewako….
Yel-yel ini bukanlah sekadar resonansi suara, melainkan manifestasi spirit kolektif peserta DAPU 2 sekaligus simbol denyut nadi pengkaderan yang tak pernah padam.
Baru-baru ini (19-22 April 2026), jajaran pimpinan perguruan tinggi mulai dari Rektor hingga Wakil Dekan berkumpul dalam sebuah forum pengkaderan intensif: Darul Arqam Pimpinan Utama (DAPU) PTM se-Sulawesi Selatan. Selama empat hari, kami tidak hanya menjalani rutinitas formal, tetapi menyelami kembali akar ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan yang relevan dengan tantangan zaman.
Salah satu titik paling mencerahkan dalam forum ini adalah pembahasan mengenai Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Di tengah arus pemahaman agama yang terkadang kaku, Muhammadiyah menawarkan metodologi yang sangat intelektual melalui tiga pendekatan epistemologis: Bayani, Burhani, dan Irfani.
Pendekatan ini membuktikan bahwa Muhammadiyah memberikan ruang yang luas bagi ilmu pengetahuan dalam menetapkan hukum dan kebijakan. Bayani berpijak pada teks suci, Burhani menekankan pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan (sains) dan irfani menyentuh aspek kedalaman spiritual dan etika.
Sinergi ketiganya menjadikan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi massa, melainkan sebuah gerakan pemikiran. Bagi kami di pimpinan perguruan tinggi, hal ini adalah pengingat bahwa mengelola institusi pendidikan Muhammadiyah berarti harus berani menempatkan ilmu pengetahuan sebagai pilar dalam memecahkan persoalan umat dan bangsa.
Sepanjang kegiatan, kami dibekali materi yang komprehensif, mulai dari Indonesia Berkemajuan: Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan hingga Risalah Islam Berkemajuan. Materi-materi ini menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang tidak apatis terhadap isu global dan kebangsaan.
Ideologi Muhammadiyah bukan sekadar teks yang dihafal, melainkan sebuah “etos kerja”. Hal ini tercermin dari bagaimana kami dipersiapkan untuk mengimplementasikan Standar Mutu AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) di kampus, serta memahami peran strategis Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam memperkuat akar rumput di tingkat Cabang dan Ranting.
DAPU bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transformasi mental. Melalui refleksi Tadarus Fathul Qulubdan materi Risalah Akhlak Kepemimpinan, kami diingatkan bahwa jabatan di lingkungan kampus adalah amanah dakwah.
Sebagai pimpinan, tugas kami bukan hanya memajukan akreditasi atau infrastruktur, tetapi memastikan bahwa semangat “Darul Ahdi wa Syahadah” sebagai komitmen menjaga bangsa terinternalisasi dalam setiap kebijakan kampus.
Pengkaderan ini ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang terukur. Ilmu yang didapat dari para instruktur dan tokoh Muhammadiyah mulai dari pimpinan pusat sampai pimpinan wilayah dan para pakar lainnya harus bermuara pada aksi nyata.
Islam Berkemajuan adalah Islam yang mencerahkan. Dan bagi kami, para pimpinan di PTM, mencerahkan berarti membawa kampus menjadi pusat keunggulan yang memadukan kedalaman iman dengan kecanggihan intelektual. Forum ini juga menjadi ajang urung rembuk sinergi gagasan sekaligus silaturahim para pimpinan PTM se Sulawesi Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *