Palopo – Dalam upaya memperkaya wawasan keilmuan dan memperkuat suasana akademik yang berbasis nilai-nilai sejarah, budaya, dan keislaman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Palopo angkatan 2024 dan 2025 mengikuti kegiatan Penguatan Suasana Akademik yang dilaksanakan di Istana Kedatuan Luwu pada Selasa, 9 Juni 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik Prodi PAI yang bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa melalui interaksi dengan sumber-sumber sejarah dan kebudayaan lokal. Selain diikuti oleh mahasiswa, kegiatan ini juga didampingi oleh Ketua Program Studi PAI Universitas Muhammadiyah Palopo, Muhammad Yusuf.
Pada kesempatan tersebut, materi disampaikan oleh Andi Sulolipu Sultani yang memaparkan sejarah panjang Kerajaan Luwu sebagai salah satu kerajaan tertua dan berpengaruh di kawasan Sulawesi Selatan. Dalam pemaparannya, Andi Sulolipu Sultani menjelaskan bahwa Kerajaan Luwu memiliki posisi strategis dalam perkembangan peradaban di Sulawesi. Luwu dikenal sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, dan pemerintahan yang memiliki hubungan erat dengan berbagai kerajaan di Nusantara. Nilai-nilai kepemimpinan, kearifan lokal, serta tradisi yang diwariskan oleh para Datu Luwu menjadi bagian penting dalam membentuk identitas masyarakat Luwu hingga saat ini.


Selain membahas sejarah kerajaan, peserta juga mendapatkan penguatan materi mengenai sejarah masuk dan perkembangan Islam di Tanah Luwu. Dijelaskan bahwa Islam mulai berkembang secara signifikan di wilayah Luwu pada awal abad ke-17 melalui peran para ulama dan mubalig yang datang membawa dakwah Islam secara damai dan persuasif. Proses islamisasi berlangsung melalui pendekatan budaya, pendidikan, perdagangan, dan keteladanan para penyebar Islam sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Peristiwa penting dalam sejarah Islam di Luwu ditandai dengan masuk Islamnya Datu Luwu ke-38, yaitu La Pattiware Daeng Parabung yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Wali Muzahiruddin. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan Islam di wilayah Luwu karena sejak saat itu Islam tidak hanya berkembang sebagai agama masyarakat, tetapi juga menjadi dasar dalam kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan kerajaan.
Pemateri juga menekankan bahwa proses penyebaran Islam di Luwu memperlihatkan harmonisasi antara nilai-nilai keislaman dan budaya lokal. Tradisi yang berkembang di masyarakat tetap dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Model dakwah yang moderat dan inklusif tersebut menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda dalam memahami Islam sebagai agama yang membawa rahmat dan kemajuan peradaban.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa terkait sejarah Kedatuan Luwu, peran ulama dalam proses islamisasi, serta relevansi nilai-nilai sejarah lokal dalam pembangunan karakter generasi muda saat ini.
Salah seorang mahasiswa peserta Syukur Yuwono mengungkapkan kesan positifnya setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini sangat membuka wawasan kami. Selama ini kami mempelajari sejarah Islam dan kebudayaan melalui buku, tetapi di sini kami dapat belajar langsung dari sumber sejarah yang autentik. Kami semakin memahami bahwa perkembangan Islam di Luwu memiliki peran besar dalam membentuk identitas masyarakat hingga sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palopo Dr. Duriani, M.Pd.I menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan penguatan suasana akademik tersebut. Menurutnya, pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui interaksi langsung dengan situs dan sumber sejarah yang memiliki nilai edukatif tinggi.
“Kami berharap kegiatan seperti ini mampu menumbuhkan kesadaran historis mahasiswa sekaligus memperkuat identitas keislaman dan kebangsaan mereka. Mahasiswa PAI harus memahami bahwa Islam berkembang melalui proses peradaban yang panjang, penuh hikmah, dan sarat nilai-nilai moderasi. Dengan demikian, mereka dapat menjadi calon pendidik yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat terhadap sejarah dan budaya masyarakatnya,” ungkap Dekan FAI.

Melalui kegiatan penguatan suasana akademik ini, Program Studi PAI Universitas Muhammadiyah Palopo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, integratif, dan berbasis kearifan lokal. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mencetak generasi intelektual Muslim yang berwawasan luas, berkarakter, serta mampu menjaga dan mengembangkan warisan sejarah Islam di Tanah Luwu.
Kontributor: Muhammad Yusuf
Penyunting: Aliyah Astari, S.H.Int., M.Hub.Int.






Leave a Reply